Ekspor Perikanan Tembus Rp52,6 Triliun: Peta Kekuatan Produk Indonesia di 152 Negara

Angka yang Bercerita: 566 Ribu Ton, 3 Miliar Dolar

Kementerian Kelautan dan Perikanan merilis volume ekspor produk perikanan periode Januari–Juni 2026 mencapai 566,25 ribu ton senilai USD 3 miliar, atau setara Rp52,6 triliun. Plt. Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan, Ishartini, menyebut 10 produk unggulan: udang vanname, rumput laut, tuna, sarden, tenggiri, cakalang, cumi-sotong-gurita, karagenan, kerapu, dan kepiting-rajungan. Produk-produk ini tersebar di 152 negara, mulai dari EFTA, Asia, Afrika, Amerika, Eropa Timur, hingga Timur Tengah.

Tuna dan Jepang: Tarif Nol Persen Mulai Agustus 2026

Terobosan paling strategis tahun ini adalah berlakunya tarif preferensi 0 persen untuk produk olahan tuna dan cakalang Indonesia ke Jepang melalui skema IJEPA, dari sebelumnya 9,6 persen, mulai 1 Agustus 2026. Nilai ekspor produk yang tercakup dalam skema ini mencapai USD 76,41 juta atau sekitar Rp1,37 triliun pada 2025, naik 21 persen dibanding 2024. Dengan tarif nol, daya saing produk tuna olahan Indonesia di pasar Jepang—yang merupakan konsumen tuna terbesar dunia—diperkirakan melonjak signifikan.

Udang dan Rumput Laut: Dua Raksasa yang Perlu Hilirisasi

Udang vanname dan rumput laut tetap menjadi primadona ekspor. Namun, sekitar 80 persen produk karagenan Indonesia masih dalam bentuk setengah jadi atau ATC, bukan produk olahan bernilai tinggi. Artinya, nilai tambah terbesar masih dinikmati oleh negara pengolah. Hilirisasi rumput laut menjadi karagenan, agar, alginat, pangan fungsional, farmasi, dan kosmetik menjadi agenda mendesak yang didorong oleh Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan.

Dampak Tenaga Kerja: 8.389 Pekerja di Sulawesi Selatan

Ekspor bukan sekadar angka devisa. Di Sulawesi Selatan, UPT Badan Mutu berhasil membawa 144 unit pengolahan ikan lokal menembus 46 negara dan menyerap 8.389 tenaga kerja, dengan frekuensi ekspor 8.540 kali pengiriman sepanjang Januari–Agustus 2026. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekspor berdampak langsung pada lapangan kerja dan ekonomi daerah.

Sudut Pandang: Diversifikasi Pasar adalah Kunci

Ketergantungan pada pasar tradisional seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Tiongkok perlu diimbangi dengan penetrasi pasar baru. Sertifikasi mutu yang diterapkan KKP dari hulu ke hilir—dengan 1.162 unit usaha yang lolos sertifikasi hingga akhir semester I 2026—menjadi fondasi penting untuk membuka pasar non-tradisional seperti Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika.