{"id":38840,"date":"2026-01-15T16:02:03","date_gmt":"2026-01-15T07:02:03","guid":{"rendered":"https:\/\/pacificposts.com\/?p=38840"},"modified":"2026-01-15T16:02:03","modified_gmt":"2026-01-15T07:02:03","slug":"panen-perdana-greenhouse-hidroponik-krakatau-steel-perkuat-pendidikan-pertanian-modern-dan-ketahanan-pangan-pesantren","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pacificposts.com\/?p=38840","title":{"rendered":"Panen Perdana Greenhouse Hidroponik, Krakatau Steel Perkuat Pendidikan Pertanian Modern dan Ketahanan Pangan Pesantren"},"content":{"rendered":"<p>Cilegon (15\/1) \u2013 Krakatau Steel Group melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan berbasis masyarakat. Hal tersebut ditandai dengan panen perdana melon hidroponik di fasilitas Greenhouse Krakatau Steel Group Peduli yang berlokasi di Pondok Pesantren Amalul Ummah, Rabu (14\/1).<\/p>\n<p>Panen perdana<br \/>\nini menjadi momen kebahagiaan tersendiri bagi para santri dan tim TJSL Krakatau<br \/>\nSteel Group, setelah melalui masa tanam selama kurang lebih 70 hari. Melon<br \/>\npremium jenis White Kirin dan Diva 16 yang dibudidayakan dengan sistem<br \/>\npertanian modern tersebut menghasilkan buah berkualitas tinggi, baik dari sisi<br \/>\nukuran, tekstur, maupun tingkat kemanisan yang mencapai brix 18.<\/p>\n<p><b>Inisiatif Berkelanjutan untuk<br \/>\nPendidikan dan Kemandirian Pesantren<\/b><\/p>\n<p>Pembangunan greenhouse ini tidak semata-mata difokuskan<br \/>\npada penyediaan infrastruktur fisik, melainkan dirancang sebagai program<br \/>\nkeberlanjutan untuk mendukung pendidikan pertanian modern di lingkungan<br \/>\npesantren. Melalui program ini, Krakatau Steel mendorong kemandirian ekonomi<br \/>\npesantren sekaligus memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas.<\/p>\n<p>Program greenhouse pesantren ini merupakan kolaborasi<br \/>\nend-to-end Krakatau Steel Group dengan melibatkan unit-unit usaha yang memiliki<br \/>\nkompetensi di bidangnya masing-masing. Perancangan desain dilakukan oleh<br \/>\nEngineer PT Krakatau Baja Konstruksi (KBK), dukungan material baja ringan oleh<br \/>\nPT Krakatau National Indonesia (KNI), konstruksi oleh PT Krakatau Perbengkelan<br \/>\n&amp; Perawatan (KPDP), serta pendampingan budidaya hingga panen oleh tim TJSL<br \/>\nKrakatau Steel Group. Pembiayaan program ini merupakan kolaborasi PT Krakatau<br \/>\nSteel (Persero) Tbk bersama Group Krakatau Sarana Infrastruktur (KSI), Group<br \/>\nKrakatau Baja Konstruksi (KBK), dan PT Krakatau Baja Industri (KBI).<\/p>\n<p><b>Penguatan Kapasitas Santri<br \/>\ndan Ekosistem Usaha<\/b><\/p>\n<p>Selain pembangunan fasilitas, Krakatau Steel juga<br \/>\nmemberikan pelatihan komprehensif kepada para santri, mencakup teknik budidaya<br \/>\nhidroponik, manajemen operasional greenhouse, hingga strategi pemasaran hasil<br \/>\npanen. Dalam pelaksanaannya, PT Krakatau Steel melibatkan pesantren yang telah<br \/>\nberhasil mengembangkan greenhouse di Provinsi Banten, yakni Pesantren Al-Markas<br \/>\nSerang, sebagai bagian dari transfer pengetahuan agar hasil panen sesuai dengan<br \/>\ntarget yang direncanakan.<\/p>\n<p>\u201cPembangunan greenhouse hingga panen perdana ini merupakan<br \/>\nwujud nyata dukungan Krakatau Steel terhadap pengembangan masyarakat sekitar,<br \/>\nkhususnya pesantren. Kami ingin pesantren tidak hanya menjadi pusat pendidikan<br \/>\nkeagamaan, tetapi juga pusat inovasi pertanian modern yang mampu menciptakan<br \/>\nkemandirian ekonomi dan memberikan pembelajaran nyata yang tidak hanya<br \/>\ndiperoleh dari buku,\u201d ujar Direktur SDM PT Krakatau Steel (Persero) Tbk,<br \/>\nSuryantoro Waluyo.<\/p>\n<p><b>Dukungan terhadap Ketahanan<br \/>\nPangan Nasional<\/b><\/p>\n<p>Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, Dr. Akbar<br \/>\nDjohan, menegaskan bahwa program greenhouse pesantren ini sejalan dengan Asta<br \/>\nCita Presiden Republik Indonesia, khususnya dalam percepatan ketahanan pangan<br \/>\nnasional.<\/p>\n<p>\u201cProgram TJSL Krakatau Steel melalui pengembangan<br \/>\ngreenhouse hidroponik di pesantren merupakan bentuk kontribusi nyata perusahaan<br \/>\ndalam mendukung Asta Cita, terutama pada agenda percepatan ketahanan pangan.<br \/>\nKami percaya ketahanan pangan nasional harus dibangun dari akar rumput, dengan<br \/>\nmelibatkan komunitas pendidikan seperti pesantren agar tercipta sistem pangan<br \/>\nyang mandiri, berkelanjutan, dan inklusif,\u201d ujar Dr. Akbar Djohan, yang<br \/>\njuga menjabat sebagai Chairman Indonesia Iron &amp; Steel Industry Association<br \/>\n(IISIA) dan Chairman Asosiasi Logistik &amp; Forwarder Indonesia (ALFI\/ILFA).<\/p>\n<p><b>Kepastian Pasar dan<br \/>\nKeberlanjutan Program<\/b><\/p>\n<p>Untuk memastikan keberlanjutan program, Krakatau Steel<br \/>\nturut menyiapkan ekosistem pemasaran yang terintegrasi. Sebagian hasil panen<br \/>\npesantren binaan akan diserap langsung oleh Krakatau Steel Group, serta<br \/>\ndipasarkan melalui kerja sama dengan pengelola ekowisata, di mana pengunjung<br \/>\ndapat melakukan aktivitas petik buah langsung di greenhouse. Skema ini<br \/>\nmemberikan kepastian pasar sekaligus mendorong perputaran ekonomi pesantren<br \/>\nsecara berkelanjutan.<\/p>\n<p>Melalui inisiatif TJSL ini, Krakatau Steel berharap dapat<br \/>\nmemberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar sekaligus memperkuat hubungan<br \/>\nyang harmonis antara perusahaan dan lingkungan.<\/p>\n<p>Press Release juga sudah tayang di <a href=\"https:\/\/www.vritimes.com\/id\/articles\/c93ecef3-0555-442b-b447-2e6235634056\/2f3803e7-4d80-4e99-9236-6df5edba6ee8\">VRITIMES<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cilegon (15\/1) \u2013 Krakatau Steel Group melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendukung ketahanan pangan berbasis masyarakat. Hal tersebut ditandai dengan panen perdana melon hidroponik di fasilitas Greenhouse Krakatau Steel Group Peduli yang berlokasi di Pondok Pesantren Amalul Ummah, Rabu (14\/1). Panen perdana ini menjadi momen kebahagiaan tersendiri bagi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":38841,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-38840","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/38840","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=38840"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/38840\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/38841"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=38840"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=38840"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=38840"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}