{"id":40299,"date":"2026-02-13T09:02:28","date_gmt":"2026-02-13T00:02:28","guid":{"rendered":"https:\/\/pacificposts.com\/?p=40299"},"modified":"2026-02-13T09:02:28","modified_gmt":"2026-02-13T00:02:28","slug":"65-konsumen-indonesia-terkena-dampak-penipuan-e-commerce-survei-cacco-mengungkap-kebutuhan-mendesak-akan-deteksi-otomatis","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pacificposts.com\/?p=40299","title":{"rendered":"65% Konsumen Indonesia Terkena Dampak Penipuan E-commerce: Survei Cacco Mengungkap Kebutuhan Mendesak akan Deteksi Otomatis"},"content":{"rendered":"<p>Cacco Inc. (Kantor Pusat: Minato-ku, Tokyo; Presiden Direktur<br \/>\nHiroyuki Iwai; Kode Saham: 4166; selanjutnya disebut &#8220;Cacco&#8221;),<br \/>\npenyedia layanan deteksi penipuan Jepang No.1*1 yang berkontribusi pada<br \/>\npengembangan infrastruktur belanja online yang aman, telah melakukan survei<br \/>\nmengenai kerugian akibat penipuan dan solusi pencegahannya di kalangan pelaku<br \/>\nbisnis <i>E-commerce<\/i> (EC) dan konsumen di Indonesia.<\/p>\n<p>Indonesia<br \/>\nmerupakan salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi digital terdepan di Asia<br \/>\nTenggara,dengan pasar <i>E-commerce<\/i> yang \u00a0diperkirakan akan berkembang hingga mencapai<br \/>\n86,81 miliar USD pada tahun 2028. Sejalan dengan ekspansi pasar ini,<br \/>\npeningkatan kerugian akibat penipuan diprediksi akan semakin meluas di masa<br \/>\ndepan.<\/p>\n<p>*1\uff1aBerdasarkan survei yang<br \/>\ndilakukan oleh TOKYO SHOKO RESEARCH, LTD., &#8220;Survei mengenai jumlah situs<br \/>\nEC di Jepang yang menerapkan layanan deteksi penipuan berbayar&#8221; (per akhir<br \/>\nMaret 2025).<\/p>\n<p>\uff0a2\uff1aBerdasarkan International Trade Administration, &#8220;Indonesia<br \/>\nCountry Commercial Guide&#8221; (diterbitkan 17 November 2025).<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><b>\u25a0<\/b><b>Ringkasan<br \/>\nEksekutif<\/b><\/p>\n<p>1. <b>65%<\/b> pengguna <i>E-commerce<\/i> di Indonesia pernah<br \/>\nmengalami &#8220;penipuan&#8221;, angka yang menunjukkan tren lebih tinggi dibandingkan<br \/>\ndengan Jepang.<b><\/b><\/p>\n<p>2. Jenis kerugian utama meliputi <b>&#8220;Penolakan COD (Bayar di<br \/>\nTempat)&#8221;<\/b>, <b>&#8220;Pengambilalihan Akun&#8221; (Account Takeover)<\/b>,<br \/>\ndan <b>&#8220;Penipuan Barang Tidak Dikirim&#8221;<\/b>.<\/p>\n<p>3. Sekitar 75% korban mengalami kerugian ekonomi rata-rata bulanan<br \/>\ndi bawah <b>&#8220;Rp1.000.000 &#8220;<\/b>.<\/p>\n<p>4. Lebih dari <b>50%<\/b> pelaku bisnis masih mengandalkan<br \/>\npemantauan manual dan sistem deteksi konvensional, Sementara adopsi <b>3D <i>Secure<\/i><\/b><br \/>\nhanya mencapai<b>22%<\/b>.<\/p>\n<p>5. Bisnis <i>E-commerce<\/i> menghadapi potensi kehilangan<br \/>\npenjualan dan peningkatan beban layanan pelanggan (<i>customer support<\/i>)<br \/>\nakibat meningkatnya pesanan palsu. *(Nilai tukar per 7 Januari 2026)<\/p>\n<p>\u00a0<\/p>\n<p><b>\u25a0Rincian Survei<\/b><\/p>\n<p>\u30fbPenyelenggara: Cacco Inc.<\/p>\n<p>\u30fbMetodologi: Riset online<br \/>\nmelalui Populix<\/p>\n<p>\u30fbTarget:<br \/>\n100 Pelaku bisnis E-Commerce di Indonesia<\/p>\n<p>\u30fbPeriode: Mei 2025<b><\/b><\/p>\n<p><b>\u00a0<\/b><\/p>\n<p><b>1. <\/b><b>Frekuensi<br \/>\nKerugian Penipuan: menunjukkan bahwa 65% pelaku bisnis <i>E-commerce<\/i> di<br \/>\nIndonesia pernah mengalami penipuan dalam satu tahun terakhir.<\/b><\/p>\n<p>Pertanyaan: Apakah Anda<br \/>\npernah mengalami penipuan? (Pilihan tunggal)<\/p>\n<p><b>2. <\/b><b>Jenis<br \/>\nPenipuan Utama: &#8220;Penipuan COD&#8221; dan &#8220;Pengambilalihan Akun&#8221;<br \/>\nmendominasi di Indonesia<\/b><\/p>\n<p>&#8220;Penipuan<br \/>\nterkait COD&#8221; (58%) dan &#8220;Pengambilalihan Akun&#8221;(52%) menyumbang<br \/>\nporsi terbesar di Indonesia. yang besar. Sebaliknya, &#8220;Penipuan Kartu<br \/>\nKredit&#8221;, yang menjadi fokus utama di Jepang, hanya tercatat sebesar 6%,<br \/>\nmenyoroti perbedaan signifikan pada lanskap keamanan antar kedua negara.. <\/p>\n<p>Pertanyaan: Jenis penipuan apa yang pernah<br \/>\nAnda alami? (Pilihan ganda)<\/p>\n<p><b>3. <\/b><b>Kerugian<br \/>\nEkonomi akibat Penipuan<\/b><\/p>\n<p>Sekitar<br \/>\n75% kerugian ekonomi bulanan terkonsentrasi di bawah Rp1.000.000. Namun, perlu<br \/>\ndicatat bahwa 23% responden mengalami kerugian yang lebih tinggi dalam kisaran<br \/>\nRp1.000.000 hingga Rp10.000.000. <\/p>\n<p>Pertanyaan:<br \/>\nBerapa rata-rata kerugian ekonomi bulanan akibat penipuan pesanan? (Pilihan<br \/>\ntunggal)<\/p>\n<p><b>4. <\/b><b>Solusi<br \/>\nPencegahan Penipuan<\/b><\/p>\n<p>Lebih<br \/>\ndari 50% bisnis masih mengandalkan pemantauan manual (51%) atau sistem internal.<br \/>\nSementara itu,adopsi metode keamanan 3D <i>Secure<\/i> di Indonesia baru<br \/>\nmencapai 22%. <\/p>\n<p>Pertanyaan:<br \/>\nMetode pencegahan penipuan mana yang sedang Anda gunakan saat ini? (Pilihan<br \/>\nganda)<\/p>\n<p><b>5. <\/b><b>Beban<br \/>\nOperasional pada Bisnis<\/b><\/p>\n<p>Beban<br \/>\noperasional manual masih sangat tinggi, di mana <b>49%<\/b> responden<br \/>\nmenghabiskan <b>11 hingga 20 jam per bulan<\/b> untuk melakukan pemantauan. Hal<br \/>\nini menimbulkan tantangan seperti membengkaknya biaya tenaga kerja dan risiko <i>false<br \/>\npositive<\/i>. <\/p>\n<p>Pertanyaan:<br \/>\nBerapa jam yang dihabiskan setiap bulan untuk pemantauan penipuan secara<br \/>\nmanual? (Pilihan tunggal)<\/p>\n<p><b>\u25a0 Kesimpulan<br \/><\/b>Survei ini<br \/>\nmengungkapkan bahwa frekuensi penipuan tergolong tinggi dengan metode yang<br \/>\nsemakin beragam di pasar <i>E-commerce<\/i> Indonesia. Secara khusus, masalah seperti<br \/>\npenolakan COD dan pesanan melalui pengambilalihan akun yang berakar pada metode<br \/>\npembayaran dan saluran transaksi spesifik sangat menonjol. Saat ini, banyak<br \/>\nbisnis masih bergantung pada pemantauan manual, yang membebani sumber daya<br \/>\nmanusia secara signifikan. Ketergantungan ini tidak hanya mengurangi efisiensi<br \/>\ntetapi juga berpotensi menyebabkan positif palsu (<i>false positive<\/i>), yang<br \/>\ndapat berdampak negatif pada pengalaman pengguna.<br \/>Sebagaimana<br \/>\nyang terjadi di Jepang dalam satu dekade terakhir, skema penipuan di Indonesia<br \/>\ndiperkirakan akan menjadi lebih canggih seiring pertumbuhan pasar. Ke depannya,<br \/>\npasar Indonesia perlu beralih menuju deteksi <i>real-time<\/i> dan operasi<br \/>\nberbasis aturan otomatis untuk mengurangi ketergantungan pada proses manual.<br \/>\nCacco bertujuan untuk mendukung kemajuan pencegahan penipuan yang disesuaikan<br \/>\ndengan kebutuhan pasar Indonesia dan berkontribusi pada pertumbuhan ekosistem <i>E-commerce<\/i><br \/>\nyang berkelanjutan.\u00a0<\/p>\n<p>*Nama perusahaan dan nama produk\/layanan (termasuk logo) yang<br \/>\ntercantum di sini adalah merek dagang atau merek dagang terdaftar dari<br \/>\npemiliknya masing-masing.<\/p>\n<p>Press Release juga sudah tayang di <a href=\"https:\/\/vritimes.com\/id\/articles\/a4f4d6d0-f692-44f2-bf80-fd1962dd9585\/f4338647-a8d1-462c-8490-fff91d0b8a0b\">VRITIMES<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cacco Inc. (Kantor Pusat: Minato-ku, Tokyo; Presiden Direktur Hiroyuki Iwai; Kode Saham: 4166; selanjutnya disebut &#8220;Cacco&#8221;), penyedia layanan deteksi penipuan Jepang No.1*1 yang berkontribusi pada pengembangan infrastruktur belanja online yang aman, telah melakukan survei mengenai kerugian akibat penipuan dan solusi pencegahannya di kalangan pelaku bisnis E-commerce (EC) dan konsumen di Indonesia. Indonesia merupakan salah satu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":40300,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-40299","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/40299","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=40299"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/40299\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/40300"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=40299"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=40299"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=40299"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}