{"id":44139,"date":"2026-05-07T12:02:06","date_gmt":"2026-05-07T03:02:06","guid":{"rendered":"https:\/\/pacificposts.com\/?p=44139"},"modified":"2026-05-07T12:02:06","modified_gmt":"2026-05-07T03:02:06","slug":"fenomena-tarif-baja-melebihi-harga-bukti-distorsi-pasar-baja-global","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/pacificposts.com\/?p=44139","title":{"rendered":"Fenomena Tarif Baja Melebihi Harga: Bukti Distorsi Pasar Baja Global"},"content":{"rendered":"<p>Jakarta, 7 Mei 2026 &#8211; Kebijakan pemerintah Brasil yang menetapkan bea anti-dumping hingga US$670 per ton terhadap sejumlah produk baja asal Tiongkok menegaskan bahwa perlindungan industri baja domestik kini menjadi langkah strategis di tengah tekanan baja murah di pasar global.<\/p>\n<p>Kebijakan tersebut dinilai sebagai respons tegas terhadap lonjakan impor<br \/>\nyang menggerus pasar domestik dan menekan kinerja industri baja nasional.<\/p>\n<p><b>Pentingnya<br \/>\nKetahanan Industri Baja Nasional<\/b>\u00a0<\/p>\n<p>Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) Tbk\/Krakatau<br \/>\nSteel Group, Dr. Akbar Djohan, menegaskan bahwa dinamika global tersebut<br \/>\nmenunjukkan pentingnya menjaga ketahanan industri baja nasional.<\/p>\n<p>\u201cKrakatau Steel mendukung penguatan industri baja<br \/>\nnasional agar tetap menjadi tulang punggung pembangunan infrastruktur dan<br \/>\nmanufaktur Indonesia. Hal ini juga sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo<br \/>\nSubianto dalam memperkuat kemandirian industri strategis nasional,\u201d ujar Dr.<br \/>\nAkbar Djohan, yang juga menjabat sebagai Chairman Indonesia Iron &amp; Steel<br \/>\nIndustry Association (IISIA) serta Chairman Asosiasi Logistik &amp; Forwarder<br \/>\nIndonesia (ALFI\/ILFA).<\/p>\n<p>Sebagai produsen baja terbesar di Indonesia, Krakatau<br \/>\nSteel terus menjalankan transformasi <b><i>KS Reborn<\/i><\/b> untuk meningkatkan daya<br \/>\nsaing dan memastikan keberlanjutan industri baja nasional.<\/p>\n<p><b>Tarif<br \/>\nTinggi untuk Koreksi Distorsi Harga<\/b><\/p>\n<p>Pengamat Industri Baja dan Pertambangan Widodo<br \/>\nSetiadharmaji, Steel &amp; Mining Insights menjelaskan bahwa dalam dua tahun<br \/>\nterakhir Brasil menghadapi lonjakan signifikan impor baja canai yang mencapai<br \/>\nsekitar 5,4 juta ton hingga November 2025, jauh di atas rata-rata historis<br \/>\nsekitar 2,2 juta ton per tahun. Sebagian besar impor tersebut berasal dari<br \/>\nTiongkok dengan pangsa lebih dari 60%.<\/p>\n<p>\u201cLonjakan impor dengan harga agresif tersebut menekan<br \/>\nindustri domestik, mulai dari penghentian operasi blast furnace, pengurangan<br \/>\ntenaga kerja, hingga pembekuan investasi di sektor baja,\u201d ujar Widodo.<\/p>\n<p>Sebagai respons, pemerintah Brasil memperketat kebijakan<br \/>\nimpor dan pada Februari 2026 menetapkan bea <i>anti-dumping<\/i><br \/>\nterhadap produk cold rolled coil (CRC) dan hot-dip galvanized (HDG) asal<br \/>\nTiongkok dengan besaran hingga US$670 per ton untuk periode lima tahun.<\/p>\n<p>Menurut Widodo, besaran tarif tersebut menunjukkan bahwa<br \/>\nkoreksi kebijakan dapat dilakukan pada skala besar ketika distorsi harga akibat<br \/>\npraktik <i>dumping<\/i> dianggap merugikan<br \/>\nindustri nasional. Jika dibandingkan dengan harga referensi baja Tiongkok<br \/>\nsekitar US$454 per ton pada akhir 2025, maka bea tersebut secara nominal bahkan<br \/>\nmelampaui harga produknya sendiri.<\/p>\n<p>Press Release juga sudah tayang di <a href=\"https:\/\/vritimes.com\/id\/articles\/3743386b-99f7-4ecd-a29b-1bd216427c99\/1a2c268d-51cd-4bf1-86ab-83e8f7da3a48\">VRITIMES<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, 7 Mei 2026 &#8211; Kebijakan pemerintah Brasil yang menetapkan bea anti-dumping hingga US$670 per ton terhadap sejumlah produk baja asal Tiongkok menegaskan bahwa perlindungan industri baja domestik kini menjadi langkah strategis di tengah tekanan baja murah di pasar global. Kebijakan tersebut dinilai sebagai respons tegas terhadap lonjakan impor yang menggerus pasar domestik dan menekan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":44140,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[2],"tags":[],"class_list":["post-44139","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-indonesia"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/44139","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=44139"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/44139\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/44140"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=44139"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=44139"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/pacificposts.com\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=44139"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}