IoT dan Smart Farming di Indonesia 2026: Ketika Kebun Terong Dikelola Lewat Smartphone

Revolusi Sensor di Lahan Pertanian

Di Lampung Selatan, sekelompok wanita tani yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Anyelir kini tidak perlu lagi menyiram tanaman terong secara manual satu per satu. Sistem penyiraman otomatis berbasis Internet of Things (IoT) yang ditenagai Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) telah mengambil alih tugas tersebut. Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi Politeknik Negeri Lampung (Polinela) dan Universitas Lampung (Unila) melalui program Pengabdian kepada Masyarakat.

Cara Kerja Sistem IoT untuk Pertanian

Sistem yang diterapkan di kebun terong KWT Anyelir bekerja berdasarkan sensor kelembapan tanah. Ketika sensor mendeteksi tingkat kelembapan di bawah batas optimal, pompa air akan aktif secara otomatis. Sebaliknya, pompa berhenti setelah kelembapan tanah mencapai tingkat yang ditentukan. Penggunaan PLTS menjadi sumber energi mandiri untuk mengoperasikan pompa dan perangkat IoT, sehingga menekan biaya operasional kelompok tani.

Pelatihan dan Adopsi Teknologi

Sebanyak 15 anggota KWT Anyelir mengikuti kegiatan pemasangan instalasi PLTS, perangkat penyiraman berbasis IoT, serta penerapannya pada area kebun terong. Mereka juga mendapatkan pelatihan teknik budi daya serta pendampingan teknis pengoperasian sistem melalui aplikasi di telepon pintar. Ketua KWT Anyelir, Vera Nova, menyambut baik inovasi ini karena集 dinilai membantu anggota menghemat waktu dan biaya operasional.

Smart Farming di Berbagai Daerah: Ragam Inovasi

Selain di Lampung, teknologi IoT juga diterapkan di Kalimantan Utara. Panen jagung berbasis sistem irigasi hemat air digital di Kalawat berhasil meningkatkan produktivitas lahan hingga 30 persen dan menghemat penggunaan air hingga 40 persen—angka yang krusial untuk pertanian di lahan kering. Di Lampung Timur, teknologi smart farming berbasis IoT digunakan untuk budidaya melon, dengan sistem fertigasi otomatis yang mampu mengatur pemberian air dan nutrisi tanaman sesuai kebutuhan.

Integrasi dengan Energi Terbarukan

Penerapan IoT di sektor pertanian semakin sering dipadukan dengan energi terbarukan. Program pertanian udang di Indonesia, misalnya, memperkenalkan Eco-Aerator bertenaga surya dan sistem pemantauan berbasis IoT untuk mengurangi biaya operasional, menurunkan emisi gas rumah kaca, dan meningkatkan produktivitas tambak. Pendekatan ini tidak hanya efisien secara ekonomi tetapi juga ramah lingkungan.