Ketimpangan Hulu-Hilir: Ketika Produksi Melimpah tetapi Layar Bioskop Tak Bertambah

Produksi Meledak, Layar Tak Bertambah

Industri film Indonesia sedang berada dalam fase produktivitas tinggi. Sekitar 244 film Indonesia tayang di bioskop pada 2025, sementara jumlah film yang antre tayang jauh lebih banyak. Namun, ledakan produksi ini tidak diimbangi oleh kapasitas eksibisi yang memadai. Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengungkapkan bahwa jumlah layar bioskop di Indonesia baru sekitar 2.500 dari estimasi kebutuhan 10 ribu layar. Kesenjangan ini menciptakan apa yang disebut sebagai “antrean panjang” film yang harus menunggu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, hanya untuk mendapatkan jatah tayang beberapa hari.

Konsentrasi di Jawa dan Dominasi Jaringan Besar

Masalah bukan hanya jumlah, tetapi juga distribusi geografis. Sekitar 70 persen layar lebar terkonsentrasi di Pulau Jawa, didominasi oleh tiga jaringan bioskop besar, sementara wilayah luar Jawa—termasuk Kalimantan, Papua, dan Sumatera—hanya kebagian 30 persen sisanya. Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga menyoroti bahwa ekosistem perfilman memiliki tiga mata rantai utama—produksi, distribusi, dan eksibisi—yang harus berjalan seimbang agar industri dapat tumbuh berkelanjutan. Ketika salah satu mata rantai timpang, seluruh ekosistem menanggung konsekuensinya: produser berinvestasi besar tetapi tidak mendapatkan jaminan tayang yang memadai, sementara penonton di daerah tidak memiliki akses yang setara terhadap karya nasional.

Jalan Keluar: Distribusi Digital dan Perluasan Infrastruktur

Beberapa solusi mulai mengemuka. Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena menilai penguatan distribusi digital sebagai salah satu solusi strategis untuk memperluas jangkauan film nasional hingga ke daerah-daerah yang belum memiliki infrastruktur bioskop memadai. Biaya produksi salinan film untuk kebutuhan distribusi konvensional masih menjadi tantangan bagi banyak rumah produksi, sehingga alternatif digital menjadi semakin relevan. Di sisi lain, Kementerian Ekraf tengah memperkuat kebijakan berbasis data yang mampu mendorong investasi, diversifikasi konten, dan kolaborasi internasional, dengan menggandeng Cinepoint sebagai mitra data untuk menghimpun analisis box office, tren media sosial, hingga demografi audiens. Data yang akurat menjadi kunci untuk memetakan di mana layar tambahan paling dibutuhkan dan bagaimana distribusi dapat dilakukan secara lebih adil. Tanpa pembenahan di sisi hilir, geliat produksi yang mengesankan akan tetap berhenti di tengah jalan—sebuah potensi besar yang menunggu untuk direalisasikan.