Harga emas dunia diperkirakan masih akan bergerak dinamis pada perdagangan hari ini, dengan peluang penguatan yang tetap terbuka meskipun sempat mengalami tekanan dalam beberapa sesi terakhir. Berdasarkan analisis Dupoin Futures yang disampaikan oleh analis Andy Nugraha, secara teknikal pergerakan emas masih menunjukkan kecenderungan bullish pada timeframe H1, sehingga potensi kenaikan harga masih cukup besar selama sentimen pasar tetap mendukung.

Pada perdagangan terbaru, harga emas atau XAU/USD tercatat mengalami penurunan tipis sekitar 0,37% dan diperdagangkan di kisaran $5.170 per troy ounce. Pelemahan ini terjadi di tengah penguatan dolar Amerika Serikat setelah rilis data inflasi terbaru dari AS yang menunjukkan hasil relatif sejalan dengan ekspektasi pasar. Data inflasi yang stabil membuat pelaku pasar memperkirakan bahwa Federal Reserve kemungkinan akan mempertahankan sikap hati-hati dalam menentukan arah kebijakan moneternya.

Kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat dan menguatnya dolar AS, yang secara historis sering menjadi faktor penekan bagi harga emas. Ketika dolar menguat, harga emas cenderung menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan terhadap logam mulia tersebut bisa berkurang dalam jangka pendek.

Di sisi lain, faktor geopolitik juga turut memengaruhi pergerakan harga emas global. Ketegangan yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi konflik yang lebih luas. Situasi ini memicu kenaikan harga minyak dunia karena adanya risiko gangguan terhadap pasokan energi global.

Lonjakan harga energi tersebut memunculkan kekhawatiran baru terkait inflasi global. Pasar menilai bahwa kenaikan harga minyak berpotensi memperpanjang tekanan inflasi, yang pada akhirnya dapat memengaruhi keputusan bank sentral, khususnya Federal Reserve, terkait waktu dan besaran penurunan suku bunga. Saat ini, sebagian besar pelaku pasar hanya memperkirakan satu kali penurunan suku bunga oleh The Fed hingga akhir tahun ini.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik juga semakin meningkat setelah muncul laporan mengenai operasi militer yang melibatkan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) bersama kelompok Hizbullah terhadap sejumlah target di kawasan Timur Tengah. Bahkan, otoritas Bahrain menyatakan bahwa Iran telah menargetkan fasilitas energi di wilayahnya, yang semakin memperbesar kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.

Di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian tersebut, emas sebenarnya masih dipandang sebagai aset safe haven yang sering dicari investor ketika risiko geopolitik meningkat. Namun dalam jangka pendek, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan penguatan dolar tetap menjadi faktor yang menahan laju kenaikan harga emas.

Secara teknikal, Andy Nugraha menjelaskan bahwa kombinasi pola candlestick yang terbentuk bersama indikator Moving Average masih menunjukkan sinyal penguatan tren bullish pada pasangan XAU/USD. Hal ini mengindikasikan bahwa momentum kenaikan masih cukup kuat meskipun harga sempat mengalami koreksi dalam beberapa waktu terakhir.

Berdasarkan analisis tersebut, apabila tekanan beli terus berlanjut maka harga emas diperkirakan berpotensi naik menuju area resistance di sekitar level $5.231 per troy ounce. Level ini menjadi target kenaikan jangka pendek yang berpeluang diuji apabila sentimen positif kembali mendominasi pasar.

Namun demikian, pelaku pasar tetap perlu mewaspadai potensi koreksi harga. Jika harga emas gagal mempertahankan momentum kenaikan, maka pergerakan selanjutnya berpotensi mengarah ke area support terdekat di sekitar level $5.126. Level ini dinilai sebagai titik penting yang dapat menentukan arah pergerakan harga emas berikutnya.

Dalam beberapa hari ke depan, pergerakan harga emas diperkirakan masih akan dipengaruhi oleh berbagai faktor global, termasuk perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, pergerakan harga energi, serta rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat. Salah satu data yang akan menjadi perhatian utama investor adalah laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) yang sering dijadikan indikator inflasi utama oleh Federal Reserve.

Dengan kombinasi faktor fundamental dan teknikal tersebut, Dupoin Futures menilai bahwa volatilitas harga emas masih akan cukup tinggi dalam jangka pendek. Meski menghadapi sejumlah tekanan eksternal, tren bullish yang masih terlihat pada grafik intraday menunjukkan bahwa peluang kenaikan harga emas tetap terbuka selama pasar mampu mempertahankan momentum beli di atas area support utama.

Press Release juga sudah tayang di VRITIMES